Rabu, 22 Mei 2013

PERJALANAN SENI RUPA INDONESIA

 
Seni Rupa Zaman Pra Modern
Seni rupa Zaman Prasejarah
Seni rupa Zaman Hindu-Budha
Seni rupa Zaman Islam
MODERN
Ø  Masa Perintisan (1807-1880)
Ø  Masa Hindia Molek (1920-1938)
o   Seni Lukis Bali Dalam Pita Maha (1930-an)
Ø  Masa Persagi (1938-1942)
Ø  Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)
Ø  Masa Kemerdekaan (1945-1950)
Masa perintisan (1807-1880)
        Perintisan seni rupa modern secara tidak disengaja  karena terjadi di tengah masa kegelapan dari jaman penjajahan sebelum adanya kemerdekaan.
         Tidak lagi memahat serta menatah patung nenek moyang maupun menyungging wayang
 Tokoh :
        Raden Saleh Syarif Bustaman (1807-1880) adalah seorang bapak perintis seni rupa modern indonesia
         Seorang keturunan keluarga bangsawan, pamannya adalah Bupati  terbaya - Semarang
         Berguru pada A.A.J. Payen (keturunan Belgia yg bekerja pada Pusat Penelitian Pengetahuan dan Kesenian  pemerintah Belanda - Bogor)
* Tinggal 20 tahun di eropa
(10 tahun di nederland (1829-1839) di asuh oleh C. Krusseman dan A. Schelfhoat
        kemudian melanjutkan perjalanannya ke perancis dan aljazair 1845
         Kembali ke jawa pada 1851 dan meninggal di Bogor pada 1880
         Sebagai pelukis potret istana di Jerman, Banyak mendapatkan penghargaan tertinggi dari raja-raja jerman,  Belanda dll.
Corak Khas Lukisan :
* Gaya Naturalis-realis dengan semangat jiwa romantis sebagai pilihan

Hindia Molek (1920-1938)

* Julukan yang diberikan oleh S. Sudjojono karena banyak melukiskan keindahan alam saja

* Hampir setengah abad (50thn) indonesia mengalami mati suri dalam perjalanan seni rupa sepeninggal Raden Saleh

         Segi negatif : Dianggap mengalami kemunduran karena jumlah seniman yang sedikit dan penyempitan tema yaitu terbatas pada keindahan alam

        Segi positif : karena banyak pelukis yang melukiskan keindahan alam Indonesia, otomatis mengangkat nilai apresiatif(penghargaan) terhadap keindahan alam Indonesia yang sangat dpuja oleh seniman pribumi dan eropa.

* Munculnya 2 kelompok, pelukis pribumi dan belanda

Tokoh Pribumi:

R. Abdullah suriosubroto (Abdullah senior) yang tinggal di Parahyangan Jawa Barat, wakidi di sumatra barat dan M. Pirngadi di Jakarta

Salah satu tokoh asing :

Rudolf Bonnet, banyak melukiskan kehidupan masyarakat di Bali sprt upacara ngaben, adu ayam, bekerja di sawah, pura tua dll

Muncul :

Basuki Abdullah (kelahiran Solo 1915), setelah menyelesaikan study di Academie Den Haag – Belanda. Adalah anak dari Abdullah senior :

* Pelukis paling populer dan pertama setelah raden saleh yg mampu melukis manusia dgn gaya Naturalis-realist

* Seni lukis indonesia dianggap bangkit kembali dari mati suri atau tidur panjangnya setelah sepeninggalnya Raden Saleh.

* Pelukis potret istana dan Pemenang sayembara melukis ratu juliana mengalahkan pelukis eropa.

Ciri khas Lukisan :

Dengan aliran realist-naturalist : Kemiripan yg menonjol, proporsional, memperindah dan memperkaya pada warna, warna kontras, garis halus, detail,


Lukis Bali Dalam Pita Maha (1930-an)

* Didirikan oleh R. Bonnet bersama Walter spies dan cokorde Agung  Sukawan di Ubud Gianyar Bali

* Pita Maha artinya  Arwah Besar (kakek)

Latar belakang : untuk menyelamatkan karya-karya yang sangat berharga dari praktek perindustrian seni/cindera mata sebagai calon isi museum seni rupa di Ubud

        Gabungan seniman lokal dan mancanegara

Ciri khas :

Melukiskan kehidupan real/realitas masyarakat bali (contoh, lukisan masyarakat bali yang sedang bertransaksi di pasar dll) dengan anatomi tubuh yang realistis dengan gaya visual(biasa disebut aliran) yang dekoratif (baca : dekoratif berarti pencahayaan yang datar/flat)



Masa PERSAGI (Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia, 1938-1942)

* Masa paling berpengaruh bagi perkembangan seni rupa indonesia

        Terpaksa bubar karena kedatangan bangsa jepang (Semua organisasi baru waktu itu harus bubar)

Latar belakang pembentukan:

Demam Demokrasi Politik yang dijiwai semangat kebangsaan dan kemerdekaan

Tujuan :

Mencari corak seni lukis indonesia baru untuk dijadikan lokalitas/khas hasil karya Indonesia. Tidak membuntuti yang datang dari barat.

Tokoh :

Agus djaja (sebagai ketua), S. Sudjojono (sekretaris)

* Menitik beratkan pada Lebih berani melukis daripada teknis melukis

Semboyan : Teknik tidak penting, yang penting adalah isi jiwa ini ditumpahkan pada kanvas.

        Metode  belajar yang ditempuh adalah melukis bersama, diskusi, ceramah,  pameran dan memperbincangkan isi majalah seni rupa eropa yang sampai ke Indonesia : The studio terbitan inggris, de Fakkel terbitan Belanda.

S. Sudjojono adalah tokoh yang sering berbicara, berceramah, dan menulis di media massa

“Seni adalah Jiwo ketok” ( S. Sudjojono)

Pameran pertama tahun 1938 di toko buku kolf – Jakarta

Setelah diakui ketokohannya pameran kedua berhasil diselenggarakan di Kunstkring pada tahun 1938 akhir (pada waktu itu seniman pribumi masih dpandang sebelah mata. Dan standard pameran professional adalah di gedung pameran Kunstkring)



Masa Pendudukan Jepang

Lahir POETRA (1942-1944) oleh Soekarna, Hatta, Ki Hadjar dewantara dan kyai Mansjur

Fungsi Menyediakan :

* Ruang lukis untuk lahan melukis model

         Ruang pameran bersama

         pemberian biaya dan penghargaan untuk pameran bersama

         menyelenggarakan kursus menggambar yang di asuh oleh Basoeki Abdullah

Tokoh :

Affandi  Penerus cita-cita kuat dari PERSAGI

* Membantu dengan cara khas yaitu dengan aktif melukis tanpa  banyak bicara.

* adalah seorang seniman Indonesia yang lukisannya sangat banyak. Dan haus akan berkarya

Seorang seniman yang beraliran ekspresionist (ekspresionis biasanya mengandalkan ekspresi. Dibuat dengan waktu yang relative sangat cepat. Menonjolkan garis-garis yang liar, jadi bukan pada objek visualnya yang realis atau pencahayaannya yang menimbulkan volume pada objek, melainkan lebih pada permainan garis yang bebas dan bahkan bisa liar.)

Tanda tangannya dibuat dengan simbol  matahari, tangan dan kaki yang artinya Affandi mengagumi keindahan alam yang dituangkan dalam karya dan tetap melangkah semakin jauh untuk berkarya. Atau bisa juga dengan kata lain, matahari symbol kehidupan, tangan symbol bekerja, dan kaki symbol langkah(artinya harus tetap melangkah maju)

Pelukis yang paling diakui dunia internasional, dengan menerima pengakuan dan penghargaan di Asia,  Eropa, maupun Amerika Latin



Masa Kemerdekaan ( 1945-1950)

Pada masa ini seniman banyak terorganisir dalam kelompok-kelompok dan sanggar

Dan mulai muncul pelukis-pelukis yang berkualitas seperti Affandi, rusli organisasi SIM(Seniman Indonesia Muda), PIM(Pelukis Indonesia Muda) dan masih banyak lagi





Kontemporer (1990 an- sekarang)

* Konsep ideal masih menjadi perdebatan sampai sekarang. Dalam garis besarnya Kontemporer berarti Kini atau masa kekinian.

*Mengusung semangat Post Modern(Post modern adalah semangat Lokalitas. Sebuah penentangan terhadap Modern. Menolak Universalitas. Biasanya corak lukisannya adalah, mengangkat corak-corak tradisional yang dikembangkan/dipadukan menjadi modern maupun kekinian. Misalkan : lukisan penari bali dengan topeng barong dan pakaian jazz. Bisa juga Lukisan dengan gaya pewayangan yang tidak berpaku pada pakem. Bisa juga objek pewayangan yang dihadirkan dengan cerita yang menyesuaikan dengan anak remaja, issue yang terbaru dll.)

* Semua Teknik dan media baku dirobohkan sehingga muncul banyak sekali gaya, teknik, maupun media baru dalam pengungkapannya.

* Semua orang bisa jadi seniman, semua benda bisa jadi seni.

* Konsep diutamakan bahkan cenderung diagungkan(Konseptual). Jadi lebih bersifat subyektif baik dari segi estetika bentuk, konsep dll

* Muncul pula Pengangkatan kembali hal-hal berbau kebudayaan (indonesian tradisional) yang dihadirkan kemasa kekinian.

* Adanya estetika non estetis (Keindahan yang di dapat dari ketidak indahan. Dengan bahasa sederhananya bahwa sesuatu yang tidak indah yang bisa berupa barang-barang recycle dll yang diolah menjadi karya seni yang mungkin membuat orang merasa jijik, terharu, sedih, pusing, mual, bertanya-tanya bingung “ini seninya apa?”/ “ini indahnya dimana?”.)

* Ada pendapat seni bukan hanya hasil akhirnya saja, tapi juga prosesnya

* Munculnya karya seni Performing art, Performance art, instalasi dll.

Seniman kontemporer Indonesia antara lain :

Agus Suwage, Tita rubi(adalah istri dari agus suwage), Fadjar djunaedi

Seniman performing art :

-Fx Harsono, tisna sanjaya, dll

0 komentar:

Poskan Komentar